E-Learning Study

Home » Uncategorized » Nanggroe ACEH Kritis: Kerusakan Ekologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Tinggi dan Bencana Lingkungan Meningkat

Nanggroe ACEH Kritis: Kerusakan Ekologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Tinggi dan Bencana Lingkungan Meningkat

Setelah Banjir besar menimpa Aceh di penghujung tahun 2000, yang telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda masyarakat serta kerusakan infrastruktur publik dengan taksiran nilai kerugian total mencapai Rp. 1 Trilyun. Sejumlah wilayah di Aceh tetap menjadi langganan bencana (banjir, longsor dan erosi) sepanjang tahun 2001-2002 lalu. Bahkan juga bencana banjir besar di Kabupaten baru Aceh Barat Daya (Abdya) terjadi di awal tahun 2003 dengan nilai kerugian yang diderita mencapai Rp. 104 Milyar, lebih besar dibanding APBD Kabupaten tersebut tahun 2002 yang berkisar hanya Rp. 95 Milyar.
Dari pantauan WALHI Aceh, Organisasi Lingkungan Hidup dan catatan liputan media, tercatat di sepanjang tahun 2000-2002 sebanyak 790 kali kejadian bencana lingkungan (skala: besar dan sedang) menimpa 13 lokasi Kabupaten/Kota dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.    

Mengangkat kembali berbagai kejadian bencana alam tersebut menjadi penting bagi kita jika mengaitkan dengan peristiwa banjir bandang dahsyat di Bahorok- Langkat yang telah memakan ratusan korban jiwa dan kerugian harta benda yang amat besar. Apalagi dengan peningkatan curah hujan di bulan-bulan basah (Oktober-Desember 2003) dan (Januari-Maret 2004) yang akan datang.  Apalagi jika membaca data-data kerusakan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Provinsi NAD.
 
Ekosistem DAS Kritis
Umumnya bencana tersebut berkaitan erat dengan menurunnya daya dukung lingkungan hidup, khususnya Daerah Aliran Sungai (DAS). Terutama karena rusaknya kawasan hulu dan tengah DAS di sejumlah lokasi dalam Provinsi NAD. Kerusakan tersebut umumnya terjadi akibat kegiatan perambahan hutan (Illegal enroatcment)dan penebangan kayu yang melanggar hukum (Illegal logging).
Perambahan hutan (Illegal Enroacment) dan Penebangan kayu haram (Illegal Logging) tersebut berlangsung pesat karena adanya celah kekosongan pengawasan apartur negara sebagai akibat diberikannya ijin konversi hutan untuk usaha perkebunan dan perkayuan serta oleh rencana-rencana pembangunan infrastruktur di dan sekitar kawasan hutan lindung dan konservasi yang menjadi hulu sejumlah DAS di Aceh.
Adapun DAS yang kondisi nya sangat kritis dan potensial menimbulkan bencana lingkungan hidup lanjutan di Aceh adalah sebagai berikut:
No.
Nama Daerah Aliran Sungai (DAS)
Kabupaten
Luas DAS
(dalam Hektar)
per-Kabupaten
Luas Areal DAS Rusak
(dalam Hektar)
Prosentase   Kerusakan
 
1.
Krueng Peusangan
(Wilayah Hulu, Tengah dan Hilir)
-Aceh Barat
-Aceh Jeumpa
-Aceh Tengah
-Aceh Utara
       2.134,67
     69.523,91
   173.257,24
       7.153,99
      103,05
  58.498,27
107.477,03
    6.114.23
    4,83 %
  84,14%
  62,07%
  85,47%
2.
Krueng Meurebo
-Aceh Barat
-Aceh Tengah
  145.994,50
    46.764,90
  59.436,45
  17.706,99
  40,71%
  37,86%
3.
Krueng Aceh
– Aceh Besar  
– Pidie
  160.465,00
    12.904,00
111.812,00  
  64,49%
4.
Krueng Tripa
-Nagan Raya
-Gayo Lues
    84.729,73
  211.716,62
  32.300,71
  80.771,81
  38,12%
  38,15%
5.
Krueng Tamiang
 Aceh Tamiang
  168.893,16
103.706,78
  61,40%
6.
Krueng Jamboaye
-Aceh Tengah
-Aceh Timur
-Aceh Utara
  302.202,35
  120.619,89
    31.168,16
  85.087,07
  40.604,78
  11.105,21
  28,16%
  33,86%
  35,73%
 
Total DAS 1- 6
10 Kabupaten
1.524.624,12
714.724,38
  46,50%
Sumber: Interpretasi Citra Landsat TM 2001 dan Peta Rupa Bumi, Bakorsurtanal, Balai DAS Provinsi Aceh dan diolah Unit GIS RMID-LDP.    
Jika direkapitulasi, maka pada 6 DAS utama yang membentang di 10 Kabupaten dalam Provinsi NAD yang berhasil kami pantau, terlihat bahwa dari total luas 6 kawasan DAS tersebut: 1.537.528,12 Ha, maka sekitar 46,50 % areal DAS tersebut telah mengalami kerusakan atau nilainya sama dengan 714.724,38 Ha.  
Dari data tersebut, terlihat bahwa tingkat kerusakan kawasan DAS yang amat besar dan mengkhawatirkan telah terjadi pada DAS Krueng Aceh, DAS Krueng Peusangan, dan DAS Krueng Tamiang, dimana kerusakan sudah mencapai angka di atas 50%. Selanjutnya adalah pada: DAS Krueng Tripa dan DAS Krueng Jamboaye yang angka kerusakannya sudah berada di atas 30%.
Musim Kemarau; Kekurangan Air
 
Selain bencana lingkungan seperti: banjir, longsor dan erosi yang frekuensi kejadiannya makin meningkat. Dampak dari meluasnya kerusakan hutan dan lahan di Aceh, khususnya pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) juga telah mengarah ke persoalan kekurangan air di musim kemarau. Meski keadaannya belum separah kondisi kekeringan di Pulau Jawa.
Berdasar analisis kebutuhan air untuk aktivitas: pertanian, industri, domestik, tambak pada beberapa daerah di Aceh ditemukan hal sebagai berikut:
1.      DAS Krueng Aceh (mencakup Kab. Aceh Besar dan Kota Banda Aceh) ditemukan data kekurangan air sebesar 506 juta m3/tahun atau sama dengan 16 m3/detik. Khususnya pada bulan-bulan kering. Sebaliknya pada bulan-bulan basah (musim hujan) terjadi kelebihan air sebesar 19,40 milyar m3/tahun. Yang biasanya menimbulkan daya rusak air (banjir di daerah dataran rendah dan longsor pada daerah dengan kemiringan tinggi).
2.      Pada DAS Krueng Pase– Krueng Peusangan (yang mencakup Kab. Aceh Tengah, Bireun, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe terdapat data kekurangan air  829 juta m3/tahun atau sama dengan 26 m3/detik. Sebaliknya pada musim hujan terjadi kelebihan pasokan air mencapai 52 milyar m3/tahun. Yang biasanya juga menimbulkan daya rusak air (banjir di daerah dataran rendah dan longsor pada daerah dengan kemiringan yang tinggi).
(Sumber: Dinas Sumberdaya Air Prov. NAD, 2000)
Peringatan Dini Bencana Lingkungan !
Keberadaan Hutan sebagai basis utama ekosistem menjadi sangat penting  dipertahankan sebagai sistem penyangga kehidupan yang berkelanjutan di Aceh. Kerusakan hutan yang demikian pesat di sejumlah kawasan DAS di Aceh adalah fakta yang amat mencemaskan. Terutama  efek buruknya terhadap meningkatnya kecepatan aliran air permukaan karena daerah resapan air yang tidak lagi berfungsi efektif, sehingga bencana yang akan dengan sangat mudah terjadi.
Kecemasan ini menjadi sangat beralasan setelah melihat gejala awal bencana di beberapa tempat di Aceh selama satu bulan terakhir. Antara lain : di wilayah Tangse – Kab. Pidie, Masyarakat yang bermukim di sekitar aliran DAS Krueng Meurebo – Aceh Barat, dan masyarakat di sekitar DAS Lawe Alas – Aceh Tenggara.
Sejumlah tempat lainnya menjadi daerah yang sangat rawan banjir dan longsor susulan di tengah curah hujan yang tinggi. Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Tamiang – Aceh Timur, Aceh Selatan, Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Aceh Besar dan Kota Banda Aceh menjadi daerah yang paling mungkin tertimpa bencana lanjutan. Kami mengharapkan semua pihak terkait dan berkepentingan untuk mewaspadai dan mengantisipasi sejak dini gejala-gejala bencana lingkungan tersebut! Agar Rakyat tidak terus-menerus menjadi korban dari kebijakan, usaha-usaha eksploitasi hutan dan proyek-proyek mudharat lingkungan.
Sungai Krueng Peusangan adalah salah satu sungai besar di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sungai yang memiliki luas DAS 2007 km2 ini berhulu pada puncak pegunungan Bukit Barisan di kabupaten Aceh Tengah dan bermuara di selat Malaka kabupaten Bireun. Setiap tahun pada musim penghujan sungai ini kerap dilanda banjir. Dengan panjang sungai mencapai 142 km dan dengan kemiringan rata-rata 0,008445, sungai ini bisa menjadi sangat berbahaya diakibatkan oleh besarnya debit banjir yang terakumulasi dari DAS yang sangat luas. Pertanyaan yang timbul adalah apakah bisa diprediksi terjadinya banjir di hilir terkait dengan waktu dan besaran debit, dengan mempelajari perjalanan air dari luasan DAS baik di lahan maupun di alur sungai. Hal ini menjadi penting sebagai peringatan dini antisipasi banjir di hilir sungai dan sebagai bahan pertimbangan bagi perencanaan pengendalian banjir dan pengelolaan DAS dalam jangka waktu yang panjang. Memperhatikan hal tersebut di atas maka dicoba suatu model yang dikenal dengan M5 Tree Model yang digunakan untuk memprediksikan dan meramal aliran berdasarkan data hujan dan data debit di hum. Pemodelan ini dibangun dengan cara menerapkan metode pembagian atas sampel menjadi kelas-kelas yang lebih kecil untuk dibangun model regresi pada tiap-tiap kelas tersebut. Pengelompokan ini mengikuti teori Decision Tree dan dilakukan berulang-ulang. Pengelompokan tersebut berhenti pada saat tidak ada lagi perbedaan yang berarti dalam kelas tersebut untuk dibagi menjadi kelas yang lebih kecil. Pemodelan dibangun dengan menggunakan data hujan dari stasiun Takengon, Lampahan dan Ami Gading dan data debit dari pencatatan AWLR (Aoutomatic Water Level Recorder) pada stasiun Beukah, Simpang Jaya dan Sempo. Hasil Simulasi yang telah dilakukan didapat bahwa model sederhana yang dibangun dapat memprediksikan debit di Beukah dengan performan yang cukup baik yaitu dengan masing-masing nilai Correlation Coefficient (CC), Mean Absolut Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0.9447, 10.0967 dan 18.8172. Dari hasil verifikasi model didapat bahwa nilai CC sedikit melemah menjadi 0.9246, tetapi nilai MAE dan RMSE menguat menjadi 4.8672 dan 9.8789. Model juga dapat meramal debit 1 hari ke depan di Simpang Jaya dan Beukah dengan performan yang dapat diterima. Untuk peramalan debit 1 hari ke depan di Simpang Jaya performannya adalah CC = 0.928, MAE = 11.7534, RMSE = 21.323. Sedangkan performan model peramalan debit 1 hari ke depan di Beukah adalah CC = 0.8846, MAE = 7.0183, RMSE = 12.1766. Model peramalan di Beukah memiliki kelemahan ketika di verifikasi, CC menurun menjadi 0.8846, namun MAE dan RMSE menguat menjadi 7.0183 dan 12.1766.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: